Judul : "Hermeneutik Ontologis-Diakletis Hans-Georg Gadamer (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah sunan kalijaga )
Penulis : Hasyim hasanah (uin walisongo semarang)
volume 9, Nomor , juli 2017
review : Novita Tiara A
keimpulan
Gadamer merupakan salah
satu filosof yang mampu meletakkan pondasi baru dalam persoalan ontologis.
Pokok penting teori hermeneutik Gadamer mengacu lingkaran hermenutik mengenai
pemahaman Pemahaman merupakan proses kesadaran menyejarah, lahir karena
keterlibatan dimensi waktu yaitu past, present, dan future. Kebenaran tercapai
apabila terjadi peleburan wawasan cakrawala dari teks, aktor, dan penafsir
(fusion horizon). Dalam pemahaman ini keterlibatan bahasa menjadi sangat
penting. Penafsiran bukan sekedar kerja reproduktif melainkan pemahaman yang bersifat
produktif, melahirkan interpretasi dan makna yang baru. Implikasi pemahaman
wayang dalam perspektif Sunaan kalijaga dipahami sebagai media atau strategi
dakwah yang senantiasa disesuaikan dengan realitas historis dan sosiologi
masyarakat. Sunan kalijaga telah meletakkan dasar berislam menggunakan kekuatan
jimat kalimasada. Jimat kalimasada dalam kegiatan dakwah juga dipahami
berdasarkan perkembangan historiografi masyarakat Indonesia sebagai repelita
pembangunan, tolerasi hidup untuk mencapai tujuan dakwah Islam yaitu
kebahagiaan, kesejahteraan hidup lahir batin.
Saran
Tulisan pada jurnal ini
secara sistematika penulisan sudah tersusun dengan baik dan jelas mulai dari
judul penelitian, nama penulis, abstrak, hasil, kesimpulan dan kata keywords
yang sudah sesuai dengan standart penulisan sebuah penulisan.
Penggunaan bahasa pada
jurnal ini sudah dapat dipahami oleh kalangan mahasiswa atau akademisi. Selain itu,
banyak terdapat tanda baca yang kurang tepat, kesalahan pengetikan (typo), dan pemborosan kata sambung.
Pada jurnal ini penulis
banyak menggunakan landasan teori dari berbagai tokoh dan membandingkan
teori-teori tokoh tersebut dengan tokoh teori ain, karena denganlandasan teori
tersebut akan memperkuat hasil penelitian. Kemudian penulis melakukan
penelitian dengan tujuan mendeskripsikan pemikiran Hans-Georg Gadamer mengenai
hermeneutika filosofis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian
library research dimana penulis memanfaatkan sumber keputusan untuk memperoleh
data penelitiannya tanpa memerlukan riset lapangan.
Dalam bagian Pengantar
seharusnya penulis bisa menambahkan asal kata hermeneutika secara epistimologi
dan historis, karena dalam jurnal langsung dijabarkan mengenai inti dari
hermeneutika itu sendiri. Seperti hermeneutic itu secara etimologi, datang dari
bahasa Yunani hermeneuen dan hermeneia yang secara sederhaamya berarti menafsir
dan penafsiran, mengungkapkan dan pengungkapan. (Hans-Georg Gadamer, 2013: 21) dan
Secara historis, Aristoteles mengungkap untuk pertama kalinya gagasan dalam
bukunya peri hermeneias. Dalam terjemahan latinnya muncul De interpretatione.
Pada dasarnya yang hendak ditekankan ialah ‘elocutione’ – kemampuan
membahasakan sesuatu secara elok agar orang sanggup menangkap dan merasakan
makna suatu pesan secara mendalam. Meski demikian, tetap saja dalam pemikiran
Yunani ia terbatas pada hermeneutiche techne – kemampuan teknik untuk menafsir.
(Hans-Georg Gadamer, 2013: 22)
Secara keseluruhan
hal-hal yang dipaparkan telah cukup jelas bagi pembaca dalam memahami penerapan
teori pemahaman gadamer dalam menganalisis wayang sebagai media dakwah sunan
kalijaga karena dalam jurnal dijabarkan awal islam masuk ke indonesia
(khususnya jawa) banyak masyarakat jawa yang memeluk agama Hindhu-Budha
sehingga islamisasi menjadi hal yang sangat sulit dilakukan dengan kondisi
masyarakat yang memiliki pondasi keyakinan kuat dan mapan.
Implikasi praktis wayang bagi dakwah prespektif hermeneutik gadamer bahwa wayang merupakan strategi dakwah dan media dakwah yang digunakan sunan kalijaga dilakukan sesuai dengan kondisi sosial historis masyarakat jawa dengan tujuan mewujudkan amar ma’ruf nahi mungkar. Maka dari itu dakwah yang digunakan sunan kalijaga sudah sesuai konteksnya tidak menentang tradisi dan kebiasaan nenek moyang dahulu. Sehingga cara berdakwah yang dilakukan sunan kalijaga secara perlahan, tidak sedikit masyarakat jawa yang kemudian berbondong-bondong masuk islam.
Implikasi praktis wayang bagi dakwah prespektif hermeneutik gadamer bahwa wayang merupakan strategi dakwah dan media dakwah yang digunakan sunan kalijaga dilakukan sesuai dengan kondisi sosial historis masyarakat jawa dengan tujuan mewujudkan amar ma’ruf nahi mungkar. Maka dari itu dakwah yang digunakan sunan kalijaga sudah sesuai konteksnya tidak menentang tradisi dan kebiasaan nenek moyang dahulu. Sehingga cara berdakwah yang dilakukan sunan kalijaga secara perlahan, tidak sedikit masyarakat jawa yang kemudian berbondong-bondong masuk islam.
Daftar Pustaka
Abdul Chalik, Hermeneutika Untuk Kitab Suci, Surabaya: Tanpa Penerbit, 2010.
Afaudi, Abdullah Khozin, hermeneutika, Surabaya, Alphabeta, 2007.
Ahmala, "Hermeneutika, Mengurai Kebuntuan Metode Ilmu-ilmu sosial", dalam Nafisul 'Atho dan Arif Fahruddin (ed), Hermeneutika Transendental; Dari Konfigurasi Filosofis Menuju Praksis Islamic Studies, Yogyakarta: IRCiSoD, 20 03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar