Minggu, 16 Desember 2018

Review Jurnal hasyim hasanah 'filafat dakwah"


Judul    : "Hermeneutik Ontologis-Diakletis Hans-Georg Gadamer (Produksi makna wayang sebagai metode dakwah sunan kalijaga )
Penulis : Hasyim hasanah (uin walisongo semarang)
volume 9, Nomor , juli 2017
review  : Novita Tiara A

keimpulan 
    Gadamer merupakan salah satu filosof yang mampu meletakkan pondasi baru dalam persoalan ontologis. Pokok penting teori hermeneutik Gadamer mengacu lingkaran hermenutik mengenai pemahaman Pemahaman merupakan proses kesadaran menyejarah, lahir karena keterlibatan dimensi waktu yaitu past, present, dan future. Kebenaran tercapai apabila terjadi peleburan wawasan cakrawala dari teks, aktor, dan penafsir (fusion horizon). Dalam pemahaman ini keterlibatan bahasa menjadi sangat penting. Penafsiran bukan sekedar kerja reproduktif melainkan pemahaman yang bersifat produktif, melahirkan interpretasi dan makna yang baru. Implikasi pemahaman wayang dalam perspektif Sunaan kalijaga dipahami sebagai media atau strategi dakwah yang senantiasa disesuaikan dengan realitas historis dan sosiologi masyarakat. Sunan kalijaga telah meletakkan dasar berislam menggunakan kekuatan jimat kalimasada. Jimat kalimasada dalam kegiatan dakwah juga dipahami berdasarkan perkembangan historiografi masyarakat Indonesia sebagai repelita pembangunan, tolerasi hidup untuk mencapai tujuan dakwah Islam yaitu kebahagiaan, kesejahteraan hidup lahir batin.
Saran
            Tulisan pada jurnal ini secara sistematika penulisan sudah tersusun dengan baik dan jelas mulai dari judul penelitian, nama penulis, abstrak, hasil, kesimpulan dan kata keywords yang sudah sesuai dengan standart penulisan sebuah penulisan.
       Penggunaan bahasa pada jurnal ini sudah dapat dipahami oleh kalangan mahasiswa atau akademisi. Selain itu, banyak terdapat tanda baca yang kurang tepat, kesalahan pengetikan (typo),  dan pemborosan kata sambung.
     Pada jurnal ini penulis banyak menggunakan landasan teori dari berbagai tokoh dan membandingkan teori-teori tokoh tersebut dengan tokoh teori ain, karena denganlandasan teori tersebut akan memperkuat hasil penelitian. Kemudian penulis melakukan penelitian dengan tujuan mendeskripsikan pemikiran Hans-Georg Gadamer mengenai hermeneutika filosofis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian library research dimana penulis memanfaatkan sumber keputusan untuk memperoleh data penelitiannya tanpa memerlukan riset lapangan.
            Dalam bagian Pengantar seharusnya penulis bisa menambahkan asal kata hermeneutika secara epistimologi dan historis, karena dalam jurnal langsung dijabarkan mengenai inti dari hermeneutika itu sendiri. Seperti hermeneutic itu secara etimologi, datang dari bahasa Yunani hermeneuen dan hermeneia yang secara sederhaamya berarti menafsir dan penafsiran, mengungkapkan dan pengungkapan. (Hans-Georg Gadamer, 2013: 21) dan Secara historis, Aristoteles mengungkap untuk pertama kalinya gagasan dalam bukunya peri hermeneias. Dalam terjemahan latinnya muncul De interpretatione. Pada dasarnya yang hendak ditekankan ialah ‘elocutione’ – kemampuan membahasakan sesuatu secara elok agar orang sanggup menangkap dan merasakan makna suatu pesan secara mendalam. Meski demikian, tetap saja dalam pemikiran Yunani ia terbatas pada hermeneutiche techne – kemampuan teknik untuk menafsir. (Hans-Georg Gadamer, 2013: 22)
           Secara keseluruhan hal-hal yang dipaparkan telah cukup jelas bagi pembaca dalam memahami penerapan teori pemahaman gadamer dalam menganalisis wayang sebagai media dakwah sunan kalijaga karena dalam jurnal dijabarkan awal islam masuk ke indonesia (khususnya jawa) banyak masyarakat jawa yang memeluk agama Hindhu-Budha sehingga islamisasi menjadi hal yang sangat sulit dilakukan dengan kondisi masyarakat yang memiliki pondasi keyakinan kuat dan mapan.
     Implikasi praktis wayang bagi dakwah prespektif hermeneutik gadamer bahwa wayang merupakan  strategi dakwah dan media dakwah yang digunakan  sunan kalijaga dilakukan sesuai dengan kondisi sosial historis masyarakat jawa dengan tujuan mewujudkan amar ma’ruf nahi mungkar. Maka dari itu dakwah yang digunakan sunan kalijaga sudah sesuai konteksnya tidak menentang tradisi dan kebiasaan nenek moyang dahulu. Sehingga cara berdakwah yang dilakukan sunan kalijaga secara perlahan, tidak sedikit masyarakat jawa yang kemudian berbondong-bondong masuk islam.
Daftar Pustaka
Abdul Chalik, Hermeneutika Untuk Kitab Suci, Surabaya: Tanpa Penerbit,  2010.
Afaudi, Abdullah Khozin, hermeneutika, Surabaya, Alphabeta, 2007.
Ahmala, "Hermeneutika, Mengurai Kebuntuan Metode Ilmu-ilmu sosial", dalam Nafisul 'Atho dan Arif Fahruddin (ed), Hermeneutika Transendental; Dari Konfigurasi Filosofis Menuju Praksis Islamic Studies, Yogyakarta: IRCiSoD, 20 03


Tidak ada komentar:

Posting Komentar